Kopi Pagi Harmoko: Politik Kagetan oleh Azisoko
Arsparis Azwan
- 0
- 17 views
Dinamika politik yang kian cepat dan tak terduga menuntut kebijaksanaan dalam menyikapi setiap perubahan. Seperti pesan bijak Sunan Kalijaga — ojo gumunan, ojo getunan, ojo kagetan, ojo aleman — bangsa ini perlu menjaga kejernihan berpikir agar tak mudah terombang-ambing oleh kejutan dan permainan politik yang menyesatkan. Para pemimpin dan elite politik dituntut pandai membaca situasi, agar setiap keputusan lahir dari nalar jernih dan berpihak pada kepentingan rakyat. Jati diri bangsa yang beretika dan beradab harus tetap dijaga, sebab hanya dengan ketenangan dan kebijaksanaan, arah kebangsaan dapat terus melangkah menuju kemaslahatan bersama.
*****
“Dalam menghadapi situasi era kini yang terus berubah, kadang tak terduga sebelumnya, pandai membaca keadaan kian dibutuhkan bagi para elite politik dan pemimpin, untuk mengambil kebijakan yang tepat dan bermanfaat bagi khalayak.” -Harmoko- Dinamika politik terus bergerak begitu masif, juga variatif. Atraksi politik yang digulirkan kadang dengan mudah dapat ditebak kemana arah dan tujuan. Namun, tak jarang sulit dipahami karena tersembunyi, tetapi acap pula mengejutkan dan membuat kegaduhan.
Dalam pekan ini dan sepekan ke depan, jelang pendaftaran pasangan calon presiden dan wakil presiden,diprediksi akan banyak kejutan yang bakal terjadi. Boleh jadi akan ada atraksi yang mengagetkan khalayak. Kaget, karena perubahan begitu drastis dan datang – tiba tanpa diduga sebelumnya.
Ibarat angin berbalik arah, semula tegak lurus menuju ke utara, tiba – tiba berputar ke barat dan timur menuju selatan. Membuat publik terkejut, terperanjat dan terpana dengan atraksi politik yang mengagetkan adalah sah – sah saja sebagai bagian dari strategi yang dijalankan untuk menarik perhatian.
Bisa jadi berbuah manis dengan memunculkan simpati dan ketertarikan publik sehingga mengerek elektabilitas dan dukungan. Tetapi, bisa jadi sebaliknya, menuai kontroversi.
Lepas dari hasil yang didapat, satu poin telah terlampaui, setidaknya membuat publik terperanjat atas sebuah keputusan politik yang perlu dicermati. Lantas bagaimana kita menyikapi? Jawabnya akan beragam, se-beragam sudut pandang dan kepentingan yang melatar-belakanginya.
Yang jelas, kita dituntut senantiasa berpikir jernih dalam menyikapi dinamika politik yang terjadi belakangan ini. Memiliki pijakan kuat dalam merespons perkembangan yang terjadi, agar tidak terombang – ambing terbawa arus politik yang belum pasti.
Ada filosofi hidup yang patut menjadi tuntunan, rujukan bagaimana menyikapi kondisi lingkungan seperti diajarkan Sunan Kalijaga, yakni, “Ojo gumunan, ojo getunan, ojo kagetan dan ojo aleman”
Ojo gumunan dapat diartikan jangan mudah terheran – heran. Ojo getunan, artinya jangan mudah menyesal. Ojo kagetan berarti jangan mudah terkejut, kaget, terperanjat. Dan, ojo kolokan adalah jangan manja karena dikelilingi orang – orang yang senantiasa menyanjungnya, mengaguminya dan menghormatinya.
Makna yang dapat kita petik, janganlah berlebihan dalam menyikapi sesuatu.
Jangan secara terus menerus menyesali sesuatu yang telah terjadi akibat
ketidakcermatan, kelalaian yang telah dilakukan sebelumnya.
Hapus pikiran yang merugikan diri sendiri karena senantiasa diselimuti
bayangan “seandainya begini, tentu hal itu tidak akan terjadi.”
Jangan pula mudah terkaget – kaget atas situasi yang terjadi, menimpa diri dan lingkungan. Kita boleh menyaksikan dinamika politik yang acap diwarnai dengan keputusan yang cukup mengejutkan, tetapi hendaknya tidak ikut terbawa arus “keterkejutan”.
Wajar saja kalau ada yang mengemas politik kagetan, politik yang membuat orang terkejut,terperanjat, terpana, bahkan terpesona, tetapi sikapi dengan jernih. Terpenting tidak lantas menjadi kagetan.
Sikap kagetan akan melemahkan daya kritis dalam merespons situasi, termasuk
keputusan politik untuk kemaslahatan umat. Dapat pula menurunkan kepekaan sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Dan, dapat menggoyahkan jati diri.
Sementara jati diri sebagai bangsa bermoral, beretika, beradab dan berbudaya
sebagaimana nilai – nilai luhur Pancasila, wajib kita kokohkan dan kuatkan agar
tidak terseret arus negatif, permainan culas dan kotor.
Dengan jati diri yang kokoh dan kuat, dengan mudah dapat menghindari beragam hoax, narasi yang menghebohkan dan mengagetkan, tetapi sejatinya menyesatkan karena tak jarang menggiring isu perselisihan dan pertentangan. Kita harus menguatkan pondasi jati diri, ada di mana, di posisi mana, berdiri di mana dan hendak melangkah ke mana. Tentu menuju ke arah yang lebih baik lagi.
Itulah perlunya pandai membaca keadaan, seperti dikatakan Pak Harmoko dalam kolom “Kopi Pagi” di media ini.
Begitu pun bagi para pemimpin di level manapun, para elite politik, dalam menghadapi situasi era kini yang terus berubah, kadang tak terduga sebelumnya, pandai membaca keadaan kian dibutuhkan untuk mengambil kebijakan yang tepat dan bermanfaat bagi khalayak.(Azisoko).
Sumber : koran Pos Kota, edisi 19 Oktober 2023