TENTANG KOPI PAGI

Kolom Kopi Pagi di Harian Poskota: Warisan Pemikiran H. Harmoko yang Terus Mengalir

Sejarah dan Asal-Usul Kolom

Kolom “Kopi Pagi” adalah salah satu rubrik opini legendaris di harian Poskota yang terbit setiap Senin dan Kamis. Kolom ini pertama kali diasuh oleh H. Harmoko, seorang tokoh pers nasional yang juga dikenal luas sebagai Menteri Penerangan dan Ketua MPR RI di era Orde Baru. Melalui kolom ini, Harmoko menuangkan pemikirannya tentang berbagai isu nasional, sosial, budaya, dan kehidupan sehari-hari dengan gaya penulisan yang khas: ringan, reflektif, dan mengandung pesan moral yang dalam. Kolom ini diberi nama “Kopi Pagi oleh Harmoko”, mencerminkan suasana santai namun bermakna seperti obrolan pagi hari dengan secangkir kopi.

Tulisan Terakhir H. Harmoko dan Wafatnya Sang Penulis

Kolom ini terus hadir secara konsisten setiap pekan, hingga akhirnya H. Harmoko menulis edisi terakhirnya pada Kamis, 1 April 2021. Tulisan tersebut berjudul “Jangan Berpuas Diri karena Sanjungan”, sebuah pesan penutup yang kini dikenang sebagai warisan pemikiran terakhirnya di media. Tak lama kemudian, H. Harmoko wafat pada Minggu, 4 Juli 2021. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, baik di kalangan dunia pers, tokoh nasional, maupun para pembaca setia kolom ini.

Warisan Tulisan yang Dibukukan

Selama masa pengasuhan kolom “Kopi Pagi”, H. Harmoko berhasil mengumpulkan dan menerbitkan sejumlah buku yang berisi kumpulan tulisannya. Hingga kini, setidaknya ada empat buku yang sudah diterbitkan, yaitu:

  1. Ada Bom Waktu

  2. Maling Teriak Maling

  3. Zaman Edan
    (Judul buku keempat belum terkonfirmasi dalam catatan umum)

Buku-buku ini mempertegas peran Harmoko sebagai pemikir yang konsisten dan komunikatif dalam menyampaikan gagasannya kepada publik secara luas.

Kebangkitan Kembali Kolom oleh Azisoko

Setelah vakum selama hampir setengah tahun pasca wafatnya H. Harmoko, kolom ini dihidupkan kembali oleh putranya, Azisoko. Dengan semangat untuk melanjutkan jejak dan warisan ayahnya, Azisoko mengambil alih penulisan kolom dan memperbaruinya dengan nama “Kopi Pagi Harmoko oleh Azisoko”. Tulisan perdana dalam era baru ini terbit pada Kamis, 28 Oktober 2021, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda. Judul tulisan tersebut adalah “Rukun Agawe Santosa, Crah Agawe Bubrah”, sebuah kalimat bijak berbahasa Jawa yang berarti “rukun membawa kemakmuran, konflik membawa kehancuran”.

Kehadiran kembali kolom ini menjadi penanda bahwa semangat berpikir kritis, bernas, dan berwawasan kebangsaan yang dulu dibawa H. Harmoko terus dilanjutkan oleh generasi berikutnya.

Makna dan Pengaruh Kolom Kopi Pagi

Kolom “Kopi Pagi” bukan sekadar opini yang hadir dua kali seminggu. Ia merupakan ruang reflektif yang membahas persoalan bangsa dengan pendekatan humanis dan penuh kearifan. Gaya penulisan yang sederhana, namun berisi, membuat kolom ini menjangkau berbagai lapisan masyarakat, mulai dari kaum awam hingga kalangan intelektual.

Ketika pena berpindah dari tangan H. Harmoko ke Azisoko, terjadi kesinambungan yang menegaskan bahwa warisan pemikiran tidak berhenti pada satu generasi. Justru sebaliknya, ia menjadi mata rantai pembelajaran dan kesadaran bersama untuk terus berpikir jernih dan bertindak bijak dalam menghadapi perubahan zaman.

Penutup

Kolom “Kopi Pagi” di harian Poskota adalah tonggak penting dalam dunia opini dan jurnalisme Indonesia. Ia mencerminkan konsistensi, ketajaman berpikir, dan kepedulian terhadap kondisi bangsa. Melalui tulisan-tulisannya, baik yang disusun oleh H. Harmoko maupun Azisoko, kolom ini mengajak pembaca untuk tidak sekadar menjadi pengamat, tetapi juga pelaku perubahan yang berlandaskan nilai-nilai moral dan kebangsaan.

Warisan pemikiran yang telah ditanamkan lewat kolom ini akan terus hidup dan menjadi inspirasi bagi banyak orang. Seperti secangkir kopi pagi, ia hadir untuk membangkitkan kesadaran, menyegarkan pikiran, dan menyemai harapan. ***