Kopi Pagi Harmoko: Jangan Kedepankan Emosi
Arsparis Azwan
- 0
- 7 views
Saling mengingatkan adalah tanda kasih dan kepedulian — bukan karena merasa lebih tahu, tetapi karena ingin bersama-sama tetap di jalan kebaikan. Dalam setiap pesan yang datang, tersimpan niat tulus agar sesama tak tergelincir, agar hati tetap terjaga dari kelalaian. Maka, bijaklah dalam memberi nasihat, lembutlah dalam menegur, dan lapangkanlah hati dalam menerima kritik. Sebab di balik setiap kata yang menegur, mungkin tersimpan cinta yang ingin menjaga. Janganlah kita menolak pesan hanya karena tak suka pada pembawanya, sebab kebenaran sering datang dari tempat yang tak disangka. Berbicaralah untuk berbagi, dengarlah untuk memahami, dan jadikan setiap pesan — baik yang halus maupun pedih — sebagai cermin untuk memperbaiki diri dan memperindah budi.
*****
Oleh Harmoko
KITA senantiasa diajarkan untuk saling mengingatkan. Sejak kecil kita pun telah sering diingatkan oleh orangtua kita, saudara kita, teman kita.
Tak jarang, apa yang telah kita dapat, kemudian kita teruskan (untuk mengingatkan) kepada orang lain.
Dalam bahasa Jawa dikenal istilah “getok tular”, menyampaikan info secara sambung menyambung dari satu ke yang lain.
Bahkan, dalam dunia bisnis kita kenal strategi WOM yaitu Word Of Mouth (promosi dari mulut ke mulut).
Tentu yang kita tularkan adalah pesan – pesan tentang kebaikan, bukan keburukan.
Kita meyakini pesan itu baik, makanya kita teruskan kepada teman atau kerabat.
Tentu cara menyampaikannya pun sesuai kebutuhan dan pada momen yang tepat, tidak asal menyuarakan, menyampaikan.
Agama apa pun mengajarkan agar kita saling mengingatkan, disebut nasihat menasihati.
Sesuai ajaran Islam, umat manusia dianjurkan untuk saling mengingatkan dalam hal kebaikan dan dilakukan secara benar.
Ingat! Pesan dimaksud dalam hal kebaikan dan dilakukan secara benar.
Bukan dengan cara kekerasan dan mengedepankan emosi, yang bisa berakhir dengan kerusakan di muka bumi.
Bukan dengan cara memaksakan kehendak, yang notabene, tidak sesuai dengan koridor produk hukum kita. Memaksakan kehendak, apalagi sampai merusak, menyimpang dari falsafah bangsa kita yang sudah kita pedomani dalam tata kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Memaksakan kehendak hingga merusak sangat tidak dianjurkan karena tak sesuai dengan norma dan adab budaya bangsa kita.
Yang dianjurkan adalah perlunya kita saling mengingatkan dalam kesabaran.
Kita pun tahu kesabaran ada dua. Sabar terhadap sesuatu hal yang diingini (dikehendaki) dan sabar atas sesuatu yang tidak dikehendaki, tidak diingini.
Siapa yang diingatkan? Jawabnya semua yang pantas untuk diingatkan agar selalu dalam relnya, senantiasa dalam jalan yang lurus.
Bisa antara orangtua dengan anaknya, antara yang tua dengan yang muda. Antara aparatur pemerintah dengan ulama, antara pejabat dengan rakyat, bisa juga antara kita.
Dan, kita tak perlu melihat siapa yang menyampaikan pesan, dan siapa yang mengingatkan, tetapi yang penting adalah isi pesan yang disampaikan.
Sekalipun yang menyampaikan orang awam, hendaknya disikapi dengan hati, bukan dengan emosi dan sikap arogansi.
Jangan bertanya siapa yang menyampaikan pesan, tapi hendaknya introspeksi : kenapa mereka menyampaikan pesan.
Kalau pun pesan berisi nasihat atau kritik? Kenapa mereka menasihati atau mengkritik kita. Itu yang perlu disikapi.
Meski pesan yang diterima, anggap saja kurang bermakna, tak ada salahnya menerimanya dengan ceria. Apalagi pesan berisi kebaikan atau menuju kebaikan, terimalah dengan suka cita.
Ketika pesan berisi kritikan karena terdapat kekeliruan yang kita perbuat, terimalah dengan lapang dada. Terimalah dengan senang hati, bukan dengan mengedepankan emosi, sakit hati, kemudian membenci.
Ketika masalah menghampiri, tak perlu ribut mencari siapa yang salah, mencari – cari kesalahan orang lain, padahal sejatinya kesalahan ada dalam diri sendiri.
Jangan karena buruk rupa, cermin dibelah. Buruk adab, dunia yang dinista.
Hal seperti ini berlaku juga bagi mereka yang mengirim pesan, memberi nasihat atau menyampaikan aspirasi.
Jangan karena pesan diabaikan lantas memutus hubungan.Jangan karena aspirasi tak ditanggapi lantas antipati.
Mari masing-masing pihak (yang mengirim dan menerima pesan) saling membuka diri untuk dapat memahami bahwa apa pun bentuknya, baik atau buruk pesan itu tetaplah berguna.
Bukankah berbicara itu untuk berbagi, mendengar untuk mengetahui, bertindak untuk memahami, dan introspeksi untuk memperbaiki. (*)
Sumber : koran Pos Kota, edisi 15 Oktober 2020