Kopi Pagi Harmoko: DPR Yang Kuat dan Bermartabat oleh Azisoko

Pembentukan kabinet baru dan DPR periode 2024–2029 menandai awal pemerintahan Prabowo-Gibran. Meski koalisi executive heavy memudahkan pelaksanaan kebijakan, DPR harus tetap kritis—bukan sekadar “yes man”—untuk menjaga keseimbangan kekuasaan. Fungsi check and balance harus diutamakan: menguji kebijakan, menolak yang merugikan rakyat, dan memastikan program pemerintah berorientasi pada kemaslahatan publik. Harmoko menekankan: “Kritis bukan asal menentang, tetapi…

Read More

Kopi Pagi Harmoko: Kolaborasi Menuju Rekonsiliasi oleh Azisoko

Menjelang pemerintahan baru, kolaborasi dan rekonsiliasi menjadi kunci untuk menyatukan elite politik dan tokoh bangsa. Perbedaan sikap politik adalah keniscayaan, tetapi harus dijadikan kekuatan untuk persatuan, bukan perpecahan. Kolaborasi yang efektif membutuhkan kesetaraan, kompromi, dan tujuan bersama: keadilan, kesejahteraan, dan kemakmuran rakyat, seperti tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. Rekonsiliasi berarti menghapus dendam politik dan memulihkan…

Read More

Kopi Pagi Harmoko: Jangan Lupakan Sejarah oleh Azisoko

Sejarah adalah cermin untuk membangun masa depan. Pancasila, sebagai falsafah bangsa, harus diamalkan—bukan sekadar dihafalkan. Hari Kesaktian Pancasila 2024 dengan tema “Bersama Pancasila Kita Wujudkan Indonesia Emas” mengingatkan pentingnya persatuan dalam kebhinekaan—menghargai perbedaan tanpa mengorbankan kesatuan. Bung Karno mengingatkan: “Masa lalu adalah kaca benggala untuk masa depan.” Kita harus mengambil nilai-nilai luhur masa lalu (mikul…

Read More

Kopi Pagi Harmoko: Kampanye Beradab, Bukan Biadab oleh Azisoko

Deklarasi kampanye damai oleh 1.553 pasangan calon kepala daerah (cakada) menandai komitmen untuk pilkada yang beradab, jujur, dan bebas hoaks. Kampanye berintegritas mengharuskan saling menghargai, tanpa politisasi SARA, politik uang, atau provokasi. Kemanusiaan yang adil dan beradab (Pancasila) menuntut kesantunan dalam bertutur dan berperilaku, menghargai perbedaan, serta menjunjung hak asasi. Pemilih, terutama generasi muda, kini…

Read More

Kopi Pagi Harmoko: Tanpa Kejujuran, Mawas Diri Tiada Arti oleh Azisoko

Mewujudkan Indonesia Maju tidak hanya membutuhkan rasa malu berbuat buruk, tetapi juga mawas diri—kemampuan mengoreksi diri dengan jujur. Budaya ini penting untuk mencegah sikap adigang-adigung (kesombongan kekuasaan) yang menutup mata terhadap kesalahan. Mawas diri melibatkan evaluasi terhadap emosi, pikiran, dan perilaku agar tidak merugikan diri atau orang lain. Tanpa kejujuran, koreksi diri hanya kamuflase tanpa…

Read More

Kopi Pagi Harmoko: Dulu Malu, Kini Malu-Maluin oleh Azisoko

Leluhur mengajarkan untuk tidak malu berbuat kebaikan, tetapi harus malu berbuat keburukan. Sayangnya, rasa malu terhadap korupsi, suap, pungli, dan gratifikasi kini pudar di kalangan pejabat dan birokrat. Korupsi merugikan negara (Rp238,14 triliun dalam 10 tahun), menghambat pertumbuhan ekonomi, dan memperparah kemiskinan. Banyak pejabat tersangka korupsi justru tampak tenang, tanpa rasa malu. Harmoko mengingatkan: “Indonesia…

Read More

Kopi Pagi Harmoko: Moralitas Cakada oleh Azisoko

Kontestasi pilkada diwarnai isu bakal calon kepala daerah (cakada) berstatus tersangka korupsi. Secara hukum, cakada tetap berhak maju selama belum berkekuatan hukum tetap. Namun, persoalan moralitas menjadi sorotan: legitimasi hukum dan demokratis tidak cukup tanpa legitimasi moral. Status tersangka menimbulkan pertanyaan etis: pantaskah seseorang yang dicap korupsi memimpin rakyat? Kepercayaan publik adalah inti kepemimpinan. Harmoko…

Read More