Kopi Pagi Harmoko: Sikap Tanggap Darurat

Kepedulian adalah napas kemanusiaan yang tak boleh padam di tengah bencana dan duka. Musibah yang melanda negeri ini menuntut lebih dari sekadar simpati—ia memerlukan aksi nyata, tangan-tangan yang terulur membantu, dan hati yang rela berbagi. Gotong royong adalah jati diri bangsa yang harus terus hidup, menjadi kekuatan saat derita datang bertubi-tubi. Pemerintah tak mungkin bekerja sendiri; solidaritas rakyat adalah penopang sejati pemulihan. Dalam setiap langkah peduli, kita bukan hanya menolong sesama, tapi juga menyelamatkan kemanusiaan kita sendiri. Saatnya menebarkan empati, karena kepedulian adalah bentuk paling luhur dari cinta kepada negeri.

 

*****

Oleh Harmoko

MELALUI kolom ini pernah disinggung bagaimana kita menyikapi situasi terkini.

Hendaknya kita memiliki kepedulian bersama dalam mengatasi musibah dan bencana. Memiliki “sense of crisis” untuk ikut berperan serta menyelesaikan beragam problema negeri kita.

Bencana alam seperti erupsi gunung Semeru, di Lumajang, Jawa Timur, banjir di Kalimantan, longsor di Sumedang, Jawa Barat, gempa bumi di Majene dan Mamuju, Sulawesi Barat, memerlukan kepedulian kita bersama.

Peduli atas bencana yang terjadi, peduli kepada keselamatan jiwa korban bencana, kebutuhan hidupnya, dan fasilitas keseharian mereka.

Peduli melalui aksi nyata dengan  membantu korban bencana. Sekecil apa pun bentuk bantuan akan sangat berharga bagi mereka yang sedang dilanda duka, minimal membantu doa.

Peduli korban bencana menjadi satu upaya yang perlu digerakkan dengan penuh kreatif, masif dan komprehensif.

Aksi peduli sosial korban bencana tidaklah sulit dibangkitan dan diwujudkan di tengah masyarakat kita.

Karakter bergotong royong dan saling tolong menolong bukan hal yang baru bagi bangsa kita. Saling membantu dan tolong menolong sudah terpatri dalam sanubari sebagai jati diri bangsa sejak dulu kala.Telah pula diamanatkan dalam pedoman dan falsafah hidup kita.

Tinggal bagaimana mengemasnya sehingga peduli sosial ini menjadi bagian tak terpisahkan dari gerakan tanggap darurat bencana yang saat ini sangat dibutuhkan.

Mengapa? Jawabnya bencana sudah terjadi. Yang sangat dibutuhkan adalah kegiatan dengan segera untuk menangani dampak buruk bencana, seperti penyelamatan dan evakuasi korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan, pengurusan pengungsi, serta pemulihan prasarana dan sarana.

Serangkaian kegiatan tersebut tidak cukup ditangani oleh pemerintah, tapi butuh keterlibatan semua pihak.

Tak cukup juga dengan hanya hadirnya pejabat di tengah korban bencana, meski menjadi suatu kewajiban untuk memastikan hadirnya aparat negara di saat rakyat berduka.

Tidak sebatas memberi bantuan, jauh yang lebih diutamakan adalah gerak langkah yang mampu menularkan rasa empati publik guna menggerakkan peduli sosial. Menumbuhkan kebersamaan mengatasi masalah, lewat aksi peduli sosial tanggap darurat bencana.

Pejabat hendaknya meneladani dengan aksi nyata.

Lantas bagaimana dengan diri kita? Jawabnya tanggap darurat menjadi kebutuhan kita, tidak hanya saat terjadi bencana, juga dalam menghadapi berbagai problema.

Lebih- lebih di era pandemi sekarang ini, tanggap darurat dalam artian kegiatan segera mengatasi dampak buruk, kian diperlukan. (*)

 

 

Sumber : koran Pos Kota, edisi 18 Januari 2021