Kopi Pagi Harmoko : Politik Kolaborasi oleh Azisoko
Arsparis Azwan
- 0
- 16 views
Kolaborasi adalah kunci membangun bangsa yang utuh dan maju. Dalam menyongsong Pilpres 2024, kolaborasi harus menggantikan pola pikir koalisi yang semata berorientasi pada kekuasaan. Politik kolaborasi menuntut keterbukaan, kejujuran, dan kesediaan melepaskan ego sektoral, politik, serta kekuasaan demi kepentingan rakyat. Melalui kolaborasi, perbedaan dan keberagaman tidak menjadi sumber perpecahan, melainkan kekuatan untuk bersatu. Kolaborasi sejati bukanlah konspirasi, oligarki, atau kolusi, melainkan sinergi untuk kemaslahatan bersama. Inilah politik yang berpijak pada nilai-nilai moral, kebersamaan, dan falsafah luhur Pancasila demi masa depan bangsa yang sejahtera.
*****
“Kolaborasi akan semakin kuat, jika diawali dengan keterbukaan dan
kejujuran. Kian solid, jika melepaskan ego sektoral, ego kekuasaan serta ego
kekuatan dan kemenangan. Satu hal lagi, kolaborasi bukanlah konspirasi,
bukan oligarki, bukan pula kolusi.”
-Harmoko-
Menyongsong Pilpres 2024, partai politik tak hanya membutuhkan koalisi untuk mengusung pasangan capres dan cawapres, tetapi hendaknya membangun kolaborasi. Mengapa? Jawabnya, paradigma kolaborasi harus menjadi inspirasi bagi setiap gerak langkah pemerintah, badan dan lembaga tinggi negara.
Kerangka berpikir kolaborasi hendaknya menjadi tatanan baru bagi seluruh elemen bangsa, utamanya politisi, kandidat dan calon pejabat negeri dalam membangun bangsa dan negara ke depan.
Kolaborasi bisa menjadi satu solusi mengatasi berbagai berbagai persoalan bangsa yang semakin kompleks, rumit dan berbelit.
Tak hanya pembelahanpolitik,dukungan dan pilihan yang semakin tajam jelang pemilu serentak. Juga dampak negatif, yang bisa terjadi, pasca pemilu, tahun depan.
Kita tentu berharap, melalui hajatan besar bangsa yang disebut “pesta demokrasi”, terbangun kebersamaan menyongsong masa depan yang lebih baik lagi dengan melepaskan segala ego, termasuk ego politik,sosial,serta ego kekuatan dan kekuasaan karena memenangkan kontestasi.Dengan kemenangan yang diraihnya, hendaknya semakin menyadarkan bahwa kekuasaan yang dimiliki karena mendapat mandat dari rakyat.
Siapa pun yang terpilih kelak sebagai kepala pemerintahan, kepala lembaga tinggi negara, menjadi pejabat dan wakil rakyat adalah pemegang kewenangan kekuasaan setelah mendapat pelimpahan dari rakyat melalui pemilu. Pemenang pemilu bukan pemilik kekuasaan yang bisa menggunakannya dengan sesukanya.
Patut diingat pula bahwa pemilu digelar untuk kita bersama, demi kemajuan kita bersama, maka siapa pun pemenangnya adalah kemenangan untuk kita bersama. Itulah perlunya membangun kolaborasi, yang tujuannya untuk kemajuan kita bersama, semakin memajukan negara dan bangsanya. Semakin memakmurkan dan menyejahterakan rakyat, bukan pejabat dan kerabatnya.
Melalui kolaborasi diharapkan dapat mengakhiri pembelahan sosial dalam masyarakat akibat pemilu selama satu dekade terakhir ini.
Menjadi tugas kita bersama, utamanya politisi, kandidat calon pemimpin bangsa, baik di eksekutif maupun legislatif, agar Pemilu 2024 menjadi era baru politik Indonesia, yakni politik kolaborasi. Bukan segregasi, apalagi polarisasi.
Politik yang mencerahkan dan menyadarkan bahwa perbedaan dan keberagaman adalah keniscayaan. Wajib dikelola menjadi kekuatan untuk menyatukan demi kemajuan bangsa dan negara.
Politik kolaborasi adalah politik yang menjadikan keutuhan bangsa dan negara di atas segalanya, segala kepentingan individu, golongan dan kekuasaan. Bukan menaburkan rasa curiga, menebarkan kebencian, perselisihan, permusuhan untuk saling menjatuhkan.
Politik yang semakin memperkuat pijakan bahwa tujuan utama kontestasi politik adalah untuk memperjuangkan nilai – nilai kebaikan dan kemaslahatan seluruh warga negara, tanpa kecuali.
Politik kolaborasi ini perlu diimplementasikan dalam kehidupan nyata, bukan jauh dari fakta.Bukan pula sebatas wacana dan euforia belaka. Kolaborasi yang penuh dengan aksi, bukan sebatas basa- basi, jauh dari realisasi.
Membangun pola kerja sama tanpa prasangka, dan jauh dari rasa curiga.Kolaborasi yang didalamnya terjalin interaksi, serta adanya kompromi beberapa elemen yang terkait individu, lembaga dan kekuasaan.
Nilai-nilai yang mendasari sebuah kolaborasi adalah adanya kesamaan persepsi, kesamaan tujuan, kemauan untuk berproses, dan saling memberikan manfaat.
Bicara tujuan, tentu untuk masa depan bangsa yang lebih baik lagi, semakin tangguh menghadapi beragam tantangan dan ancaman ketidakstabilan ekonomi dan geopolitik internasional.
Begitupun manfaat yang didapat untuk kita semua, bangsa Indonesia seperti dikatakan Pak Harmoko dalam kolom “Kopi Pagi” di media ini.
Hanya saja, kolaborasi akan semakin kuat jika diawali dengan keterbukaan dan kejujuran. Kian solid jika masing- masing pihak melepaskan ego sektoral, ego kekuasaan serta ego kekuatan dan kemenangan.
Satu hal lagi, kolaborasi jangan mengarah kepada konspirasi, bukan mendorong tumbuhnya oligarki dan menyuburkan kolusi. Sebab,kolaborasi bukanlah konspirasi, bukan oligarki, bukan pula kolusi.
Mari perkuat kolaborasi dengan merujuk kepada nilai – nilai luhur budaya bangsa kita, falsafah Pancasila. (Azisoko)
Sumber : koran Pos Kota, edisi 28 Agustus 2023