Kopi Pagi Harmoko: Menyiapkan Generasi Emas oleh Azisoko
Arsparis Azwan
- 0
- 8 views
Perempuan memiliki peran penting sebagai tiang negara dan penentu masa depan bangsa. Pemberdayaan perempuan bukan hanya soal kuota politik, tetapi juga peningkatan kualitas hidup melalui pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Negara wajib hadir memberikan dukungan nyata agar potensi besar perempuan, terutama di pedesaan, dapat berkembang menjadi kekuatan produktif. Kesuksesan pembangunan bangsa bergantung pada sejauh mana perempuan diberdayakan secara adil dan proporsional. Dunia akan memandang Indonesia mulia jika mampu mengelola potensi perempuan sebagai penggerak utama pembangunan dan pencetak generasi unggul menuju Indonesia Emas.
*****
“Negara wajib hadir memberikan dukungan nyata memberdayakan perempuan di segala bidang pembangunan. Dunia akan memandang negara kita mulia jika sukses mengelola potensi perempuan dalam pembangunan..”
-Harmoko-
SERING diumpamakan bahwa wanita (perempuan) adalah tiang negara. Jika “baik” wanitanya, akan jayalah negara, sebaliknya jika “rusak” wanitanya, maka rusak pula negara.
Ini bentuk penggambaran bahwa kedudukan wanita begitu terhormat, memiliki peran sangat besar dalam membangun masa depan generasi penerus bangsa.
Tentu, kita perlu menafsirkannya secara bijak. Tak harus " letterlek – letterlijk (bahasa Belanda)" yang berarti literal atau secara tekstual.
Jangan lantas menyimpulkan bahwa kerusakan negara apa pun penyebabnya menjadi tanggungjawab wanita.
Begitu pun kejayaan negara, tak pula kemudian menumpahkan dominasi perannya kepada kaum hawa.
Yang perlu menjadi komitmen bersama adalah bagaimana dengan kekuatan hebat yang tersimpan dalam diri wanita diberdayakan dalam konteks membangun keluarga dan masyarakat. Dalam arti yang lebih luas lagi bangsa dan negara.
Ini dikandung maksud peran perempuan hendaknya dimaksimalkan dengan meningkatkan kualitas hidup dengan memberikan akses terhadap fasilitas pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi. Juga perluasan kesempatan berpartisipasi dalam dunia politik dan pemerintahan.
Cukup beralasan jika undang – undang menempatkan porsi yang cukup besar kepada anggota legislatif perempuan, setidaknya 30 persen keterwakilan caleg perempuan dari total anggota dewan sebagaimana diatur dalam UU Pemilu.
Menjadi persoalan kemudian, sudahkah itu dipenuhi oleh masing – masing parpol dalam menempatkan para calegnya pada pemilu 2024 ini. Jawabnya masih menjadi kontradiksi.
Mencuat penilaian keterwakilan caleg perempuan di setiap dapil sudah memenuhi kuota 30 persen. Di sisi lain, menyebut hanya satu parpol yang sudah mencapai kuota 30 persen keterwakilan caleg perempuan di setiap dapil, 17 parpol peserta pemilu lainnya belum memenuhi.
Tentu bukan sebatas jumlah keterwakilan perempuan dalam parlemen, tetapi yang lebih utama adalah bagaimana memberikan peran yang proporsional dalam segala sektor kehidupan.
Sejumlah studi menyebutkan banyak kelompok wanita di beberapa daerah yang
sukses mengembangkan potensi lokal sebagai sumber penghasilan masyarakat.
Kaum hawa telah membuktikan lebih tekun dan teliti mengelola dan
menggerakkan kelompok petani, nelayan, koperasi, dan usaha rumahan yang
dapat menambah penghasilan keluarga. Menciptakan produk unggulan
berpeluang ekspor.
Sayangnya potensi ini belum maksimal dikembangkan menjadi gerakan massal yang didukung semua kalangan. Konsep yang tersaji, belum sepenuhnya terealisasi dalam praktik sehari – hari.
Padahal pemberdayaan perempuan harus dikemas secara lebih komprehensif dengan dukungan dan kerjasama dari berbagai pihak, tidak hanya pemerintah pusat dan daerah, juga pihak swasta, pelaku ekonomi serta masyarakat, termasuk keluarga.
Negara wajib hadir memberikan dukungan nyata memberdayakan perempuan di segala bidang pembangunan. Dunia akan memandang negara kita mulia jika sukses mengelola potensi perempuan dalam pembangunan, seperti dikatakan Pak Harmoko dalam kolom “Kopi Pagi” di media ini.
Cukup beralasan, lebih – lebih jumlah penduduk perempuan sebanyak 137,9 juta jiwa, hampir separo dari 278,7 juta total penduduk Indonesia (proyeksi jumlah penduduk tahun 2023).
Ini yang perlu menjadi catatan khusus bagi siapa pun pemenang pilpres tahun 2024, jika ingin memajukan negeri dengan memaksimalkan peran perempuan di segala lapisan masyarakat.
Utamanya perempuan di pedesaan untuk mengembangkan potensi sumber daya lokal menjadi produk unggulan, baik di pasar lokal maupun dunia.
Tak kalah pentingnya memberikan akses seluas mungkin di bidang kesehatan, pendidikan dan sosial budaya, agar perempuan Indonesia dapat secara total menjalankan perannya sebagai pencetak generasi unggul dan tangguh.
Muncul paradigma bagi wanita era kini, bahwa karir yang cemerlang bukan melulu soal pekerjaan ( profesi), tetapi sukses menjalani peran sebagai istri dan ibu yang baik.
Tidak terbantahkan, seorang ibu akan memberikan yang terbaik bagi masa depan putra – putrinya. Menyiapkan putra – putrinya sebagai generasi berkualitas dan berintegritas menyongsong Indonesia Emas.
Banyak memberi, tak harap kembali itulah slogan perjuangan para ibu dalam memupuk generasi masa depan. Selamat Hari Ibu. (Azisoko).
Sumber : koran Pos Kota, edisi 21 Desember 2023