Kopi Pagi Harmoko: Menjual Program dan Gagasan oleh Azisoko
Arsparis Azwan
- 0
- 5 views
Pemilu bukan ajang membeli “kucing dalam karung”, melainkan momentum memilih wakil rakyat yang benar-benar dikenal gagasan dan integritasnya. Para calon legislatif hendaknya tidak hanya menampilkan gambar di jalan, tetapi hadir dan berprestasi di tengah masyarakat. Di era digital, pemilih muda menuntut kejujuran, dialog, dan rasionalitas dalam kampanye. Karena itu, kampanye gagasan dan dialogis menjadi penting agar rakyat memilih dengan cerdas, bukan karena iming-iming sesaat. Seperti pesan Harmoko, pilihlah figur yang berintegritas dan berpihak pada kepentingan rakyat, bukan janji palsu yang cepat hilang, namun menimbulkan penyesalan panjang.
*****
“Melalui kampanye gagasan, berarti mengajak rakyat memilih secara cerdas, memilih figur- figur yang berintegritas, bukan semata karena janji, iming- iming angpao, yang habis dalam sehari, tapi dirugikan selama lima tahun berikutnya”
-Harmoko-
JANGAN memilih kucing dalam karung adalah pepatah lama yang tetap aktual, dan akan tetap aktual pada setiap gelaran pemilihan umum, utamanya pemilu legislatif (pileg).
Pemilihan legislatif dengan sistem proporsional terbuka adalah kebijakan untuk merespons kehendak publik agar calon pemilih mengetahui para wakilnya yang akan duduk di dewan perwakilan rakyat, baik di pusat maupun di daerahnya masing – masing.
Peluang ada di depan mata, pintu sudah dibuka lebar – lebar bagi calon anggota legislatif untuk mengenalkan diri kepada publik, siapa dirinya, apa gagasan dan program kerjanya yang hendak dilakukan, jika kelak terpilih sebagai anggota dewan yang terhormat.
Idealnya sebagai calon wakil rakyat memiliki target yang jelas dan tegas, apa yang hendak diberikan kepada rakyat selama menjabat.
Apa yang hendak diperjuangkan untuk kemajuan bangsa dan negara. Apa yang akan dilakukan untuk kemaslahatan umat, bukan kepentingan kerabat.
Penyampaian visi dan misi ke depan, tak ubahnya menjual program dan gagasan kepada rakyat. Jika produk yang ditawarkan bagus, berkualitas dan sangat bermanfaat bagi rakyat, untuk masa sekarang, lebih – lebih dalam jangka panjang, tentu tingkat penjualan akan semakin tinggi.
Sebaliknya, jika produk yang ditawarkan kurang dapat memberikan manfaat, apalagi jangka panjang, tentu minat beli rakyat menjadi rendah.
Meski potret diri caleg bagaikan etalase jalan karena memenuhi jalan raya, gang
dan lorong – lorong pemukiman, tidak secara otomatis mendongkrak daya jual.
Pertanyaannya mengapa? Jawabnya akan beragam, tetapi setidaknya ada
sejumlah faktor penghambat.
Pertama, caleg sebelumnya kurang merakyat karena jarang terjun ke tengah – tengah masyarakat.Warga masyarakat baru mengetahui setelah gambarnya dipampang di tikungan pinggir jalan.
Siapa dia, latar belakangnya bagaimana masih meraba- raba, apalagi program dan gagasannya. Ini tak ubahnya membeli kucing alam karung, dalam versi yang berbeda.
Kedua, caleg ujug – ujug. Disebut ujug – ujug karena kurangnya sosialisasi diri
sebagai calon wakil rakyat. Mestinya upaya mengenalkan diri sudah jauh
dilakukan beberapa tahun sebelumnya, setelah muncul niat hendak nyaleg.
Meski tidak tidak secara transparan, tetapi membangun komunikasi dan
silaturahmi dengan lingkungan yang akan menjadi dapilnya sudah dibangun
sejak dini.
Ketiga, minim prestasi.Tak sedikit caleg minim prestasi bagi masyarakat lingkungan.Jika kepada warga sekitarnya saja, belum banyak memberikan manfaat, apalagi dalam skala yang lebih luas. Sebagaimana adagium, yang kecil saja tidak mampu, apalagi yang besar.
Keraguan yang mengendap, akan menggerus tingkat kepercayaan. Yang hendak saya sampaikan ukir prestasi diri lebih dahulu, sebelum berupaya mengukir pretasi bagi orang lain.
Meski begitu peluang menuju gedung dewan, masih terbuka lebar. Masa
kampanye masih cukup panjang untuk membangun empati kepada publik.
Tentu dengan mencermati kebutuhan rakyat saat ini, dan mendatang. Tak hanya
di bidang ekonomi. Juga sosial budaya, informasi dan komunikasi, apalagi
dikaitkan dengan kemajuan dunia digital.
Masih banyak pertanyaan yang menggantung bagi masyarakat, utamanya
generasi milenial dan generasi Z, sering disebut sebagai pemilih muda yang
jumlahnya terbesar pada pemilu 2024. Lebih 50 persen dari total total pemilih.
Generasi muda dikenal sebagai generasi kritis dalam menyikapi kebijakan dan
menentukan pilihan. Pemilihan lebih mengandalkan daya nalar dan logika,
dengan referensi media digital.
Di sisi lain, disinformasi politik kian merebak. Ratusan, mungkin ribuan berita hoax dan manipulatif telah memenuhi ruang dunia maya di tahun politik ini.
Diantaranya mendelegitimasi penyelenggaraan pemilu, menjatuhkan figur – figur kandidat dan menyerang parpol pendukungnya.
Itulah sebabnya kampanye dialogis menjadi penting, bukan saja karena teruji akurasinya, sekaligus menjawab pertanyaan yang masih menggantung dari para pemilih muda.
Kampanye dialogis dua arah semakin diperlukan, karena rakyat semakin tak puas hanya menerima keputusan dan kebijakan yang dibuatkan wakilnya, namun jauh dari yang mereka harapkan, seperti dikatakan Pak Harmoko dalam kolom “Kopi Pagi” di media ini.
Melalui kampanye dialogis dengan mengusung gagasan, berarti mengajak rakyat memilih secara rasional dan cerdas, memilih figur- figur yang berintegritas, bukan semata karena janji, iming- iming kaos, angpao, yang habis dalam sehari, tapi dirugikan selama lima tahun berikutnya. (Azisoko).
Sumber : koran Pos Kota, edisi 11 Desember 2023