Kopi Pagi Harmoko: Berlomba Kebaikan oleh Azisoko

Pencitraan dalam politik bukanlah hal yang salah selama dilakukan dengan kejujuran dan ketulusan. Seperti dikatakan Harmoko, pencitraan sejatinya adalah cara mengemas kebaikan secara transparan dan proporsional, tanpa rekayasa atau manipulasi. Dalam konteks politik, pencitraan seharusnya menjadi sarana menebar kepedulian dan kebaikan sosial, bukan ajang menebar kebencian atau menutupi kekurangan. Berlomba dalam kebaikan jauh lebih bermakna…

Read More

Kopi Pagi Harmoko: Politik Kolaborasi oleh Azisoko

Menjelang Pemilu 2024, bangsa ini perlu meninggalkan politik identitas yang memecah belah dan beralih pada politik kolaborasi yang mempersatukan. Kolaborasi menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi, golongan, dan kekuasaan. Seperti pesan Harmoko, kolaborasi akan kuat jika diawali dengan keterbukaan dan kejujuran, serta semakin solid bila ego sektoral dilepaskan demi tujuan bersama. Dalam situasi global…

Read More

Kopi Pagi Harmoko: Serakah vs Sak Madyo oleh Azisoko

Keserakahan adalah akar dari berbagai kerusakan — lingkungan rusak, korupsi merajalela, dan moral bangsa merosot. Sifat tamak membuat manusia tak pernah puas, selalu ingin lebih, bahkan dengan cara curang. Flexing dan gaya hidup mewah hanyalah bentuk keserakahan sosial yang menumbuhkan iri dan kesenjangan. Leluhur mengajarkan urip sak madya — hidup sederhana, secukupnya, tanpa berlebihan. Harmoko…

Read More

Kopi Pagi Harmoko: Berbagi Tanpa Imbalan oleh Azisoko

Memberi sejatinya adalah wujud keikhlasan dan kemanusiaan, bukan sarana mencari pujian atau keuntungan politik. Harmoko menegaskan, berbagi tanpa pamrih memerlukan keteladanan, terutama dari mereka yang memiliki kekuasaan dan jabatan. Dalam budaya bangsa, memberi adalah nilai luhur yang tercermin dalam pepatah “Sepi ing pamrih, rame ing gawe” — bekerja tulus tanpa mengharap balasan. Di tengah krisis…

Read More

Kopi Pagi Harmoko: Pamer Kemewahan oleh Azisoko

Memamerkan kemewahan di tengah kesulitan ekonomi rakyat adalah sikap yang tidak berperasaan dan mencederai nilai moral bangsa. Hidup sederhana bukan sekadar pilihan, tetapi cerminan budi pekerti dan ajaran luhur yang berakar pada Pancasila. Gaya hidup hedon hanya memperlebar jurang kesenjangan dan menumbuhkan iri serta kecemburuan sosial. Filosofi Jawa urip sak madyo—hidup secukupnya, sepantasnya, dan sewajarnya—mengajarkan…

Read More

Kopi Pagi Harmoko: Tenggang Rasa Tak Sebatas Kata oleh Azisoko

Tenggang rasa adalah nilai luhur bangsa yang kini mulai pudar di tengah kerasnya persaingan politik dan sosial. Padahal, sikap menenggang perasaan orang lain menjadi kunci harmoni, kedamaian, dan persatuan. Lunturnya tepo seliro melahirkan ujaran kebencian dan perpecahan yang mencederai martabat bangsa. Karena itu, dibutuhkan keteladanan nyata dari para tokoh dan pemimpin untuk menumbuhkan kembali tenggang…

Read More

Kopi Pagi Harmoko: ‘Musuh Terbesar..’ oleh Azisoko

Musuh terbesar manusia bukanlah orang lain, melainkan hawa nafsu yang tersembunyi dalam diri. Ia berwujud keserakahan, ambisi, dan keinginan menghalalkan segala cara demi kepuasan duniawi. Dalam tahun politik, hawa nafsu sering menjelma menjadi dorongan berkuasa tanpa moral. Karena itu, manusia perlu menata diri dengan sikap sumeleh—menerima dengan ikhlas tanpa memaksakan kehendak—dan sareh, yaitu sabar serta…

Read More