Kopi Pagi Harmoko: Berdikari di Bidang Ekonomi oleh Azisoko

Kemandirian ekonomi bangsa belum sepenuhnya terwujud, karena kebijakan masih dipengaruhi kepentingan asing dan oligarki. Padahal, berdikari bukan berarti menolak kerja sama luar negeri, melainkan memastikan bahwa setiap hubungan berjalan adil dan menguntungkan rakyat. Negara harus mengelola sumber daya alam untuk kesejahteraan sendiri, memberi ruang luas bagi UMKM, dan mencegah dominasi pemodal besar. Kemandirian sejati lahir…

Read More

Kopi Pagi Harmoko: Harga Melambung, Rakyat Limbung oleh Azisoko

Ketahanan pangan nasional bergantung pada kebijakan nyata yang berpihak kepada petani. Kenaikan harga sembako dan kegagalan panen sering membuat rakyat limbung, sementara petani merugi. Negara harus hadir, bukan sekadar memantau, tetapi bertindak tegas melawan mafia pangan dan menjaga stabilitas harga agar kebutuhan pokok tetap terjangkau. Pemerintah mesti melindungi produksi dalam negeri serta menjamin distribusi yang…

Read More

Kopi Pagi Harmoko: Indonesia yang Kuat dan Berdaulat oleh Azisoko

Kedaulatan pangan adalah fondasi kemandirian bangsa. Ironi terjadi ketika negeri penghasil sawit terbesar di dunia justru warganya harus mengantre minyak goreng. Situasi ini menandakan lemahnya ketahanan dan kemandirian pangan, sekaligus rapuhnya kedaulatan ekonomi. Negara harus hadir menegakkan kedaulatan sejati sebagaimana semangat Trisakti Bung Karno: berdaulat secara politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam budaya. Indonesia…

Read More

Kopi Pagi Harmoko: Jangan Sekali-kali Membelokkan Sejarah oleh Azisoko

Sejarah adalah cermin jati diri bangsa yang tak boleh dihapus atau diselewengkan. Pesan Bung Karno, Jas Merah—“Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah”—menegaskan pentingnya menghormati setiap tokoh yang berjasa bagi negeri, tanpa terkecuali. Pelurusan sejarah sah dilakukan, tetapi bukan untuk mengganti fakta demi kepentingan politik. Menghilangkan peran seorang pemimpin sama saja meniadakan bagian penting dari perjalanan bangsa. Sejarah…

Read More

Kopi Pagi Harmoko: Maraknya Parpol Baru oleh Azisoko

Kemunculan partai-partai baru menandakan gairah politik yang terus hidup, namun tidak cukup hanya mengandalkan figur nasional atau modal besar. Kaderisasi dan kedekatan dengan rakyat menjadi kunci utama meraih simpati publik. Partai sejati lahir bukan dari ambisi berkuasa, melainkan dari tekad memperjuangkan nasib rakyat kecil yang tengah terhimpit kesulitan ekonomi. Popularitas tanpa kualitas hanya akan layu…

Read More

Kopi Pagi Harmoko: Tempe dan Tahu oleh Azisoko

Ketergantungan impor kedelai mencerminkan lemahnya kemandirian pangan bangsa. Mogoknya produksi tempe dan tahu bukan sekadar persoalan harga, melainkan cermin kebijakan instan yang tak berpihak pada petani. Negeri subur seperti Indonesia seharusnya mampu swasembada, bukan terus bergantung pada impor yang hanya menguntungkan segelintir pihak. Kemandirian pangan adalah soal harga diri bangsa, bukan sekadar kebutuhan dapur. Saatnya…

Read More

Kopi Pagi Harmoko: Keadilan Social oleh Azisoko

Keadilan sosial bukan hanya urusan kebijakan, melainkan cermin nurani bangsa. Konflik sosial sering muncul karena ketimpangan, keserakahan, dan perilaku aparat yang abai terhadap rasa keadilan rakyat. Negara wajib hadir bukan dengan kekuasaan yang menindas, tetapi dengan empati dan kepedulian yang memulihkan. Seperti pesan Harmoko, selain bersikap adil, penting pula menumbuhkan simpati dan empati sosial dengan…

Read More